Home » » Tinjauan Tentang Pemantapan Mutu Laboratorium Kesehatan

Tinjauan Tentang Pemantapan Mutu Laboratorium Kesehatan

Written By edi sukarman on Wednesday, May 22, 2013 | 10:33 AM



Tinjauan Tentang Pemantapan Mutu Laboratorium Kesehatan


Pemantapan mutu atau Quality assurance laboratorium ditunjukan untuk menjamin ketelitian (persisi) dan ketepatan (akurasi) hasil pemeriksaan laboratorium(Anonim,1995).
Pemantapan mutu internal adalah pencegahan dan pengawasan yang dilaksanakan oleh laboratorium secara terus-menerus agar diperleh hasil pemeriksaan yang tepat dan teliti meliputi aktivitas praanalitik (persiapan pasien, identitas pasien atau specimen, pengiriman dan penyimpanan, identitas pasien atau specimen), tahap analitik (proses uji ketelitian dan ketepatan) dan tahap pasca analitik (pencatatan dan pelaporan).
Pemantapan mutu eksternal adalah kegiatan pemantapan mutu yang diselenggaralan secara periodik oleh pihak lain di luar laboratorium yang bersangkutan untuk memantau dan menilai penampilan suatu laboratorium di bidang pemeriksaan tertentu. Penyelenggaraan PME dilaksanakan oleh pihak pemerintah, swasta atau internasional dan diikuti oleh semua laboratorium, baik milik pemerintah maupun swasta dan dikaitkan dengan akreditasi laboratorium kesehatan serta perizinan laboratorium kesehatan swasta.
PME harus dilaksanakan sebagaimana kegiatan pemeriksaan yang biasa dilakukan oleh petugas yang biasa melakukan pemeriksaan dengan reagen/peralatan/metode yang biasa digunakan sehingga benar-benar dapat mencerminkan penampilan laboratorium tersebut yang sebenarnya. Setiap nilai yang diperoleh dari penyelenggara harus dicatat dan dievaluasi untuk mempertahankan mutu pemeriksaan atau perbaikan-perbaikan yang diperlukan untuk peningkatan mutu pemeriksaan.
2.4.1    Ketelitian (Presisi)
     Ketelitian diartikan sebagai kesesuaian hasil-hasil laboratorium yang diperoleh apabila pemeriksaan dilakukan berulang-ulang.nilai presisi menunjukkan  seberapa dekatnya hasil tes bila dilakukan dengan sampel yang sama.suatu pemeriksaan umumnya dinyatakan dalam ketidaktelitian (impersisi) dari pada ketelitian (presisi).presisi suatu pemerksaan dapat dinyatakan dengan  besarnya standar deviasi (SD) atau koefisien variasi(CV).Makin besar  SD dan CV maka makin tidak teliti pemerksaan tersebut atau sebaliknya semakin kecil nilai CV semakin teliti pemeriksaan tersebut (Yamin,G,dkk,1999).
Pada instrument modern yang peralatandan reagensianya telah distandarisasi, akan memberikan nilai CV dan rentang hanya beberapa persen saja. metode dengan pemipetan  manual akan memberikan nilai CV antara 10 sampai 15% atau lebih (Widman F.k,1995)
Ketelitian terutama dipengaruhi oleh kesalahan acak 9 random error yang tidak dapat dihindari. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketelitian antara lain adalah:
a.  Stabilitas alat, makin stbil suatu kerja alat makin teliti pemerksaan tersebut .
b.  Metode pemeriksaan metode pemeriksaan yang praktis mudah dikerjakan dan membutuhkan waktu yang singkat akan memberikan kemudahan bekerja sehingga hasil tes akan lebih teliti.
c.   Volume bahan yang diperiksa, semakin besar volume atau kadar yang diperiksa, maka makin kecil kesalahan.
d.  Waktu pengulangan yang dilakukan dalam hari yang sama akan memberikan hasil SD dan CV yang lebih kecil dibandingkan dengan pengulangan dengan hari yangf berbeda.
e.  Tenaga pemeriksa petugas yang terampil dan teliti akan memebrikan hasil tes yang lebih baik
2.4.2    Ketepatan (akurasi)
Ketepatan (akurasi) diartikan sebagai kesesuaian hasil pemeriksaan dengan nilai sebenarnya. Nilai akurasi menunjukkan kedekatan hasil terhadap nilai sebenrnya yang telah ditentukan oleh metode standar. Akurasi dipakai untuk menilai adanya kesalahan acak atau sistemik atau keduanya (Yamin G,2004).
Cara memantau dan menilai inakurasi suatu pemeriksaan dapat dibandingkan hasil pemeriksaan dengan bahan control. Keikut sertaan dalam program PME, maka hasil pemeriksaan suatu laboratorium dapat dibandingkan dengan nilai target, yaiut rata-rata seluruh laboratorium yang mempunyai metode pemeriksaan sejenis.
    
2.4.3    Jenis Kesalahan
a.     Kesalahan acak (Random Error)
Kesalahan ini menyebabkaan presisi hasil pemeriksaan. Kesalahan ini tidak dapat dihilangkan, hanya dapat dikurangi sampai batas tertentu dengan cara melakukan pemeriksaan denga teliti dan menggunakan alat reagen yang lebih baik serta prosedur pemeriksaan yang benar.
b.     Kesalahan Kasar
Kesalahan kasar terjadi pada pra analitik maupun pasca analitik, misalya persiapan pada penderita, kesalahan penomoran, bertukaran, kesalahan antikoagulan hemolisis, kerusakan specimen karena penyimpanan, dan kesalahan perhitungan. Praanalitik, persiapan dan prainstrumentasi, pemilihan reagen dan bahan control, dan metode analitik, pemeriksaan bahan control, metode manual atau analitik, pasca analitik, pencatatan hasil bahann control, pelaporan dan menghitung data control secara statiscal.
c.      Kesalahan Sistemik (Systemic Error)
Kesalahan sistemik menyebabkan akurasi hasil pemeriksaan kurang baik kesalahan ini biasa disebabkan oleh metode pemeriksaan yang dipakai, alat bantu (pipet) yang kurang baik akurasinya, reagen yang rusak atau cara yang melarutkan panajng gelombang yang pakai, curva yang tidak linear.
2.4.4    Quality Kontrol
Penilaian PMI memerlukan prosedur multitule yang lazim digunakan adalah Wersgard Multitule Quality Control dengan menggunakan sejumlah ketentuan untuk menafsirkan  data control. Hasil pemeriksaan bahan control diinterpretasi melalui control chart, yaitu The Levey-Jenning Control Chart. Control chart merupakan gambaran hasil data control secara diagram menetukan nillai rata_rata (mean) dan nilai SD pada kertas grafik arikmatika (hasil pemeriksaan pada garis vertical (sumbu Y) da tanggal pemeriksaan horizontal (sumbu X) ).
  Aturan Wersgard multirole system :
1-2S:     Satu control diluar mean ± 2 SD (tidak melampaui ± 3SD, merupakan “ketentuan peringatan”)
1-3S:     Satu control diluar nilai mean ± 3 SD merupakan “ketentuan penolakan“ mencerminkan adanya kesalahan sistemik.
R-4S:    Satu control diluat mean ± 2 SD dan satu control lain diluar nilai mean – 2 SD, merupakan ketentuan penolakan yang mencerminkan kesalahan acak.
4-1S:     Empat control berturut diluar nilai mean + 1 SD atau mean – 1 SD merupakan ketentuan penolakan mencerminkan kesalahan acak dan sistematik.

10(x):    Sepuluh control pada 1 sis diatas atau dibawah nilai mean merupakan ketentuan penolakan mencerminka kesalahan sistematik.


Tinjauan Tentang Pemantapan Mutu Laboratorium Kesehatan

0 comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

Site Info